Karakteristik Profesi


Oleh  Asmuni Syukir

Konsepsi profesi sebagaimana uraian di atas, masih sukar  digunakan untuk menganalisis atau membuat klasifikasi jenis pekerjaan apa saja yang bisa dikategorikan sebagai suatu profesi. Oleh karenanya berikut ini disajikan ciri-ciri profesi dari rumusan beberapa pakar, yang penulis rankum (simpulkan) sebagai berikut:

1. Profesi itu pada dasarnya menyangkut operasi intelek

Karakter dari suatu profesi menunjukkan bahwa sifat kegiatan dari jenis pekerjaannya lebih banyak membutuhkan aktivitas berpikir atau kinerja intelektual dari pada aktivitas fisik atau motorik.

2. Profesi itu dasar kerjanya bersumber dari aplikasi teori

Oleh karena aktivitas profesi merupakan kinerja intelektual, maka kinerjanya harus bersumber atas dasar suatu teori yang khusus untuk jenis profesi yang bersangkutan. Menurut Sutisna (1987), yang dimaksud teori tersebut ialah suatu sistem azas dan proposisi abstrak yang menguraikan dalam kata-kata umum jenis-jenis fenomena yang menjadi pusat perhatian profesi. Ia tidak dapat diterapkan dengan rutin melainkan dengan bijaksana pada setiap kasus. Bagi seorang profesional teori berfungsi sebagai alat maupun pedoman praktek. Ketrampilan yang menandai suatu profesi diturunkan dari dan didukung oleh teori. Jadi, teori dan praktek itu merupakan suatu perpaduan. Untuk menghasilkan teori yang sahih, yang akan menyediakan dasar yang kuat bagi teknik-teknik profesional, diperlukan penerapan metode ilmiah kepada masalah-masalah profesi. Penggunaan metode ilmiah ini dipupuk oleh dan pada gilirannya memperkuat unsur rasionalitas yang menggalakkan sikap kritis terhadap teori. Ini berarti kesediaan untuk senantiasa meninggalkan setiap bagian teori, betapapun tua dan dihormatinya, dan menggantinya dengan formulasi yang telah terbukti lebih sahih.

Pentingnya teori bagi perbuatan profesional membawa implikasi, antara lain: Pertama, pendidikan akademis yang lama dipandang perlu. Karena pemahaman teori itu begitu penting bagi ketrampilan profesional, maka persiapan bagi suatu profesi mesti meliputi pengalaman intelektual maupun praktis. Kedua, hanyalah orang-orang yang paling sanggup dipandang akan memiliki kemampuan intelektual untuk menerima dan menggunakan pengetahuan serupa itu. Karenanya pengambilan para calon harus diawasi dengan ketat melalui saringan dan proses pendidikan yang teliti dan panjang yang menyingkirkan mereka yang kurang sanggup.

3. Kompetensi Profesional

Adanya teori sistematis yang menjadi bahan dasar suatu profesi mengharuskan setiap individu pekerja profesional memiliki seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Persyaratan ini lebih dikenal dengan sebutan kompetensi. Kompetensi inilah yang membedakan antara pekerja dengan profesi, antara profesional dengan tidak profesional, kompeten atau tidak kompeten menyandang sebutan profesional dalam pekerjaannya.

Kompetensi tersebut meliputi kompetensi profesional, kompetensi pribadi, dan kompetensi sosial, yang kesemuanya diperoleh melalui proses pendidikan dan atau latihan yang intensif.

4. Kewenangan Profesional

Adanya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan intensif dalam teori sistematis dan bidang ilmu tertentu memberi seorang profesional jenis kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang yang bukan ahli dalam bidang ilmu itu. Realiatas seperti ini akhirnya menjadi dasar bagi kewenangan seorang profesional yang ditandai dengan sertifikasi/akta  yang diperolehnya melalui proses pendidikan dan ujian.

Unsur kewenangan inilah yang menurut Oteng Sutisna (1987: 306) menjadi alasan mengapa orang-orang profesional menuntut otonomi dan tanggung jawab dalam pekerjaan mereka. Meskipun demikian, kewenangan ini tidak tanpa batas; fungsinya terbatas hanya pada bidang-bidang khusus dalam mana seorang profesional telah dididik dan dilatih. Jadi seorang profesional tidak dapat menetapkan petunjuk-petunjuk mengenai segi-segi kehidupan klien dimana kemampuan teoritisnya tidak berlaku. Berani memberikan petunjuk serupa itu berarti memasuki suatu wilayah dimana ia sendiri adalah seorang awam, dan karenanya dianggap melanggar kewenangan kelompok profesional lain.

Kewenangan pribadi orang-orang profesional dalam berhadapan dengan klien atau pekerja bawahan didasarkan atas kemampuan yang tinggi dari mereka, tidak karena mereka memangku jabatan tertentu dalam lembaga. Setiap profesional diharapkan untuk berfungsi secara mandiri dan otonom, dan tidak sekali-kali tunduk dengan pertimbangan birokrasi dari lembaganya di luar norma dan prinsip profesionalitasnya.

(5)  Sanksi Profesional

Kewenangan profesional yang mandiri dan otonom merupakan suatu bentuk kekuasaan monopolistis seorang profesional dalam menjalankan profesinya. Setiap kelompok profesi berusaha agar masyarakat memberikan pengakuan atas kewenangan tersebut baik secara formal (kesepakatan yang diperkuat oleh kekuatan hukum) maupun informal. Oleh karenanya masyarakat mempunyai kekuasaan untuk melakukan pengawasan profesi, yaitu mulai dari latar belakang pendidikan sampai dengan praktek profesinya. Bagi orang-orang profesional harus ada pertanggungjawaban moral dan sosial atas kewenangannya dan orang-orang yang melanggar kewenangan tersebut ada sanksi masyarakat, baik sanksi moral, sosial, maupun sanksi hukum.

(6)  Kode Etik Profesi

Kewenangan otonom yang dinikmati oleh suatu profesi membawa resiko bagi klien dan masyarakat yang dilayaninya. Kewenangan bisa disalahgunakan; kekuasaan dan hak-hak istemewa dapat dipakai untuk melindungi kepentingan pribadi yang bertentangan dengan kesejahteraan masyarakat. Maka untuk mencegah penyalahgunaan serupa itu, setiap profesi menetapkan seperangkat pedoman yang memaksa perilaku etis para anggotanya, atau yang disebut dengan kode etik profesi.

(7) Budaya Profesi

Menurut Oteng Sutisna (1987:309) kebudayaan profesi terdiri atas nilai-nilai, norma-norma, simbol-simbol, dan konsep karir. Nilai-nilai sosial dari suatu kelompok profesional ialah anggapan-anggapannya yang dasar dan fundamental. Yang paling penting di antara nilai-nilai ini ialah esensial dari jasa yang disampaikan oleh kelompok profesional kepada masyarakat. Profesi memandang bahwa jasanya itu suatu kebajikan sosial, dan kesejahteraan masyarakat akan sangat dirugikan oleh ketidakhadirannya.

Norma-norma kelompok profesional merupakan pedoman bagi perilaku dalam situasi sosial. Ada cara-cara yang layak untuk memperoleh ‘lisensi’ profesi, ambisi memperoleh jabatan, memperoleh klien, menghadapi dan memperlakukan klien, serta menerima dan menolaknya. Singkatnya, ada suatu norma perilaku yang mengatur setiap situasi antar pribadi yang mungkin terjadi dalam kehidupan kelompok profesional.

Konsep karir suatu profesi menunjuk kepada sikap tertentu terhadap pekerjaan. Suatu karir adalah esensial suatu panggilan hidup yang diabdikan kepada pekerjaan yang mendatangkan kebajikan. Pekerjaan profesional tidak pernah dipandang semata-mata sebagai alat untuk suatu tujuan; karena pekerjaan profesional itu sendiri adalah tujuan. Menyembuhkan yang sakit, mendidik anak dan remaja, memajukan ilmu pengetahuan itu sendiri adalah nilai-nilai. Seorang profesional memberikan jasa-jasanya pertama-tama untuk kepuasan psikis dan kedua untuk imbalan finansial.

Karena itu Cyril O’Houle (1980) menyebutkan bahwa diantara ciri-ciri pekerjaan profesional adalah adanya kerjasama dan kompetisi yang sehat antara sesama teman sejawat; anggota profesi memiliki kesadaran dan tanggungjawab profesional; serta militansi individual;  sebagai budaya profesional.

(8) Organisasi Profesi

Suatu profesi tidak sekadar kelompok individu yang memiliki kewenangan, melainkan secara keseluruhan mempunyai tanggungjawab atas kualitas jasa sosialnya.  Tanggungjawab semacam itu hanya dapat ditegakkan bilamana profesi memiliki suatu bentuk organisasi yang kuat dan berpengaruh yang dapat membantu dan menjamin terpenuhinya semua karakteristik profesi tersebut.

Kembali ke   BERANDA /ARTIKEL

8 thoughts on “Karakteristik Profesi

  1. saya sependapat bahwa profesi itu pada dasarnya menyangkut operasi intelek .
    karena kegiatan profesi lebih berorientasi pada aktivitas berpikir daripada fisik.
    mereka lebih mengandalkan logika dan pengetahuan dalam melakkukan tugasnya.

  2. saya sependapat bahwa organisasi profesi tidak hanya sekelompok individu saja yang memiliki kewenangan,tapi di haruskan setiap anggota profesi memiliki tanggung jawab atas jasa sosialnya masing-masing atau per individu.

  3. Dalam PGRI ada kode etik. bagi para pelanggar kode etik pasti akan dikenai sanksi sesuai dengan jenis pelanggarannya. Bagaimana menurut anda jika seorang guru melakukan pemukulan terhadap siswanya? Berdasarkan kode etik profesi guru. Menurut anda sanksi apa yang harus dikenakan pada guru tersebut?

  4. saya sependapat bahwa organisasi profesi tidak sekedar kelompok individu yang memiliki kewenangan, melainkan secara keseluruhan mempunyai tanggung jawab bersama. Selain itu organisasi profesi juga harus bisa memberikan layanan semaksimal mungkin kepada para anggotanya

  5. ya saya setuju kalau profesi itu merupakan dasarnya menyangkut oprasi intelek, kenapa ?karena tidak semua pekerjaan bisa menjadi profesi dikarenakan profesi tersebut membutuhkan pemikiran atau keahlian khusus dan tidak semua orang itu bisa melakukannya dan untuk melakukan suatu proses tersebut butuh proses yang panjang

  6. Saya sependapat dengan pendapat bapak, dalam pembahasan Kompetensi profesional. kompetensi tersebut meliputi kompetensi profesional, kompetensi pribadi, dan kompetensi sosial, yang kesemuanya diperoleh melalui proses pendidikan dan atau latihan yang intensif.
    tetapi yang saya ingin tanyakan apakah dalam kompetensi pribadi, bisa menuntut kita untuk memperluas kemampuan lain yang kita punya tetapi kemampuan itu tidak terdapat di bidang yang sudah kita kuasai ???

  7. Dari artikel Pak Asmuni bisa saya simpulkan bahwasanya profesi lebih condong pada teori-teori sehingga perlu adanya pendidikan formal dan ada batasan-batasan dalam penerapan teori tersebut yang disebut dengan kode etik, sedangkan pekerjaan lebih difokuskan pada kegiatan atau langsung pada prakteknya dimana pekerjaan hanya membutuhkan pembelajaran otodidak dan pekerjaan bisa dikerjakan dengan adanya kebiasaan🙂 keep smile

  8. menurut saya sebuah pekerjaan itu dapat dikatakan sebuah profesi apabila pekerjaan tersebut merupakan hal yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer,teknikdan desainer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s