Sikap Guru Profesional


Oleh  Asmuni Syukir

 Sikap guru profesional terutama dalam penyikapan terhadap tugas dan perannya harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan secara utuh. Sebab segala keputusan dan tindakan guru akan mempunyai dampak jangka panjang terhadap pencapaian tujuan pendidikan, yang notabene berdampak pada  peserta didik, baik secara positif maupun negatif, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.  Maka dalam rangka pengembangan pribadi peserta didik yang utuh rumusan tujuan pendidikan maupun upaya pencapaiannya harus secara utuh pula, yakni meliputi dimensi kemanusiaan dan kepribadian.

Dimensi Kemanusiaan

Tujuan pendidikan yang mengacu pada dimensi kemanusiaan pada dasarnya merupakan landasan filosofis tentang hakikat manusia yang intinya terdapat 4 (empat) dimensi, yaitu manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk relegius. (1) Dimensi individualitas menunjukkan adanya pribadi-pribadi yang unik,  berbeda satu sama lain (meski anak kembar sekalipun) dalam segala aspek kepribadiannya. Dengan perbedaan individual tersebut, maka setiap manusia sadar akan individualitasnya, pribadinya, egonya atau pun dirinya. Dalam rumusan tujuan pendidikan, dimensi individu tercakup dalam aspek, misalnya, memiliki pengetahuan, ketrampilan, kesehatan jasmani dan ruhani. (2) Dimensi sosialitas menunjukkan bahwa manusia secara kodrati tidak dapat hidup sendiri tanpa bersama-sama dengan manusia lain. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu membutuhkan bantuan dan kerjasama dengan orang lain, serta kasih sayang dan pengakuan dari orang lain, atau yang disebut dengan peristiwa sosial yang kemudian melahirkan keluarga dan masyarakat. Oleh karenanya setiap manusia memerlukan proses sosialisasi, yaitu proses penyesuaian diri dengan komunitasnya. Dalam rumusan tujuan pendidikan, dimensi sosial tercakup dalam aspek, misalnya, memiliki rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (3) Dimensi kesusilaan menunjukkan bahwa manusia itu adalah makhluk yang mempunyai kesadaran susila, dalam artian dapat memahami norma-norma susila dan mampu berbuat sesuai dengan nilai-nilai moral  yang diyakininya. Dalam rumusan tujuan pendidikan, dimensi susila tercakup dalam aspek, misalnya, berakhlak mulia atau berbudi pekerti luhur. (4) Dimensi religius (keberagamaan) menunjukkan bahwa manusia percaya akan adanya Tuhan atau kekuatan gaib yang bersifat supranatural yang menguasai manusia, sehingga menimbulkan cara hidup tertentu sesuai dengan ajaran yang diyakininya. Dalam rumusan tujuan pendidikan, dimensi religius ini tercakup dalam aspek, misalnya, beriman dan bertqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Keempat dimensi kemanusiaan tersebut dimiliki setiap manusia, karena merupakan potensi (fitrah/kodrati) yang dibawanya sejak ia dilahirkan. Potensi-potensi ini pula yang menentukan harkat dan martabat manusia yang sekaligus menunjukkan jatidiri atau kepribadiannya. Karena itulah Guru Profesional harus memiliki wawasan yang luas tentang dimensi kemanusiaan ini beserta implikasinya dalam tujuan pendidikan. Sebab, misi guru adalah misi kemanusiaan, yang dalam bahasa populernya  “memanusiakan manusia”. Dengan demikian, guru dalam menyikapi tugas dan perannya harus selalu berupaya mengoptimalkan, menyeimbangkan, dan mengintegralkan dimensi kemanusiaan peserta didik sehingga menjadi manusia yang utuh dan seimbang. Yaitu manusia yang dengan sadar mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya secara wajar. Misalnya, jika seseorang lebih menonjolkan pengabdian kepada masyarakat (sosialis/altruis) dengan mengabaikan aspek individualitasnya (kepentingan dirinya dan keluarganya), maka menjadi tidak wajar, begitu pula sebaliknya.

Dimensi Kepribadian

Untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikat penciptaan-Nya, maka pendidikan harus mencakup keseluruhan aspek kepribadian manusia, atau yang dalam rumusan tujuan pendidikan disebut taksonomi tujuan pendidikan. Banyak versi tentang taksonomi tujuan pendidikan, antara lain meliputi aspek cipta, rasa dan karsa (versi Ki Hajar Dewantara); aspek kecakapan intelektual, strategi kognitif, pengetahuan verbal, ketrampilan motorik dan sikap (versi Gagne); aspek penalaran (kognitif), nilai dan sikap (afektif), dan ketrampilan (psikomotor) (versi Benjamin S. Bloom dkk.). Taksonomi versi Bloom dkk. inilah yang banyak dipakai di Indonesia.

Karena itulah Guru profesional harus memiliki wawasan yang luas tentang dimensi kepribadian ini beserta implikasinya dalam tujuan pendidikan. Sebab hakikat pendidikan itu adalah membentuk kepribadian peserta didik yang utuh dan seimbang. Maka guru yang berwawasan sempit dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Misalnya penekanan yang berlebihan pada aspek kognitif akan menimbulkan pendidikan yang intelektualistis, tidak trampil, dan rendah moralitasnya.

Dengan demikian guru dalam menyikapi tugas dan perannya harus selalu berupaya menyeimbangkan dan mengintegralkan dimensi kepribadian peserta didik agar menjadi manusia yang berkepribadian utuh dan seimbang. Hal ini sangat penting, mengingat kecenderungan peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi-potensi dirinya akan menentukan corak kepribadiannya di masa mendatang.

Penyikapan Guru terhadap Tugas-tugasnya

Segala keputusan dan tindakan guru dalam proses pembelajaran mempunyai dampak terhadap pencapaian tujuan pendidikan, dan segala bentuk penyikapan guru terhadap tugas-tugasnya, baik tugas-tugas keguruan maupun non keguruan, mempunyai dampak langsung terhadap peserta didik, baik positif ataupun negatif, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Karena itulah, maka Guru Profesional dalam melaksanakan tugas dan perannya haruslah bersikap kehati-hatian, sabar, disiplin, kreatif dan rendah hati.

Sikap kehati-hatian

Sikap kehati-hatian ini bukan berarti memasung otonomi dan kreativitas guru, sehingga menjadikan guru ‘takut’ keliru dalam berbuat. Tetapi yang dimaksud kehati-hatian dalam konteks ini adalah kearifan, tidak “sembrono”, penuh pertimbangan (terhadap dampak), dan tidak gegabah dalam melakukan tindakan kependidikan, terutama dalam pencapaian tujuan pendidikan yang utuh.

Penyikapan guru terhadap tugas-tugas kependidikan (keguruan dan non keguruan) tersebut sangat diperlukan mengingat dalam pelaksanaan proses pembelajaran pada praktiknya cenderung bersifat transaksional dan situasional. Artinya tidak semua aspek kependidikan dapat direncanakan, dan yang terjadi dalam praktek tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya, terutama masalah suasana kelas (pengelolaan kelas). Oleh karenanya dalam situasi, kondisi, dan kesempatan yang berbeda, guru harus menerapkan kemampuannya secara berbeda pula sesuai dengan tujuan, materi, media yang tersedia,  karakteristik peserta didik, serta kondisi situasional. Jadi fleksibilitas dalam pelaksanaan program pembelajaran, kearifan dalam mengambil keputusan, serta kearifan dalam melakukan tindakan sangatlah diperlukan.

Banyak kasus peserta didik rendah motivasi belajarnya, bahkan pobia terhadap mata pelajaran tertentu, sangat benci dan trauma terhadap guru tertentu, stress dan depresi mental. Ini semua adalah dampak dari sikap ketidak hati-hatian guru, lebih mengedepankan emosi daripada hati, sehingga hilang kearifannya dalam bertindak. Di sinilah pentingnya sikap kehati-hatian dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan terutama terhadap peserta didik.

Kesabaran

Sikap sabar dapat dimiliki apabila guru telah memiliki stabilitas emosi (emotional stability) sebagai ciri kepribadian orang dewasa. Guru yang emosinya stabil tidak akan mudah marah dan tidak akan tergesa-gesa (ceroboh) dalam segala tindakannya. Banyak kejadian di sekolah yang mudah menyulut kemarahan guru. Tetapi, guru yang telah memiliki stabilitas emosi, ia akan tetap sabar dan arif dalam menghadapi kejadian-kejadian yang menjengkelkan tersebut.

Sikap sabar sangat erat hubungannya dengan sikap kehati-hatian. Dampaknya bagi guru akan memiliki sifat dan sikap mulia, antara lain: (a) asih ing murid (tertanam sifat kasih sayang kepada peserta didik); (b) telaten ing pamulange (tekun dan ulet dalam membelajarkan peserta didik); (c) lumuh ing pamrih (tulus ikhlas dan tidak bertendensi yang bukan-bukan dalam melaksanakan tugas); (d) tanggap ing sasmita (mengerti kepribadian anak, perbedaan individu setiap peserta didik, memahami situasi dan kondisi, sehingga dalam segala tindakannya tidak emosional); (e) sepen ing panggrayangan (tidak menimbulkan prasangka yang bukan–bukan dalam segala tindakannya; misalnya, setiap peserta didik bertanya guru marah-marah, maka peserta didik patut berprasangka bahwa guru tidak pecus menjawabnya sehingga untuk menutupi ketidakpecusannya dengan gaya marah-marah); (f) jatmika ing solah (simpatik karena segala tindakannya penuh kearifan); (g) antepan ing bebudene (santun dalam bertingkah laku, tidak mudah marah dan tidak mudah merasa tersinggung) (Asmuni Syukir, 1985:17-18).

Segala sikap dan sifat yang berhubungan dengan sikap kesabaran guru tersebut sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian peserta didik sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan pendidikan.

Kedisiplinan

Dalam konteks ini yang dimaksud kedisiplinan adalah sikap yang menunjukkan kesetiaan dan ketaatan terhadap peraturan atau norma-norma yang berlaku. Pengertian ini identik dengan asal kata disiplin yakni kata “disciplus” yang berarti pengikut yang setia.

Guru harus bersikap disiplin dalam menjalankan tugas-tugasnya, tetapi bukan disiplin dalam pengertian disiplin kolot (kuno) yang mengartika disiplin sebagai taat kepada ketentuan atas dasar paksaan atau otoritas dari luar, disiplin yang bersifat lahiriyah, atau disiplin yang otomatis.

Guru harus bersikap disiplin dalam pengertian modern, yaitu ketaatan pada peraturan atas dasar kesadaran dan rasa tanggungjawab, sehingga orang akan melaksanakan peraturan bukan karena adanya pengawasan dari luar, tetapi karena adanya kontrol dari dalam dirinya sendiri. Inilah yang disebut self-control atau self-discipline.

Kedisiplina guru dalam menjalan tugas sangat diperlukan sebagai sikap keteladanan dan contoh bagi peserta didiknya. Guru tidak layak memberikan perintah disiplin terhadap peserta didiknya apabila dirinya sendiri belum dapat berbuat disiplin. Disinilah letak keterkaitannya dengan upaya pencapaian tujuan pendidikan.

Kreativitas

Dalam konteks ini kreativitas dimaknai sebagai suatu proses yang memanifestasikan diri dalam kelancaran, kelenturan, dan keaslian dalam pemikiran. Kelancaran dalam arti kata mampu memberikan banyak gagasan dalam waktu yang terbatas. Kelenturan mampu melihat berbagai kemungkinan penggunaan sesuatu benda, berbagai macam sudut pandang dari suatu masalah. Keaslian mampu memberikan jawaban yang tak terduga, tak terpikirkan oleh orang lain. (Munandar, 1988, dalam Tim Dosen IKIP Surabaya, 1994:15).

Guru Profesional harus memiliki kreativitas, karena dunia kependidikan  mengharuskan adanya inovasi dan improvisasi sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi, di samping sifat ‘pekerjaan’ guru yang situasional dan transaksional. Di sisi lain kreativitas sangat bermanfaat untuk mengusir rutinitas yang sangat menjenuhkan, memudahkan pemecahan masalah, baik yang menyakut profesional problem maupun personal problem. Guru yang penuh kreativitas akan bisa menyenangi tugas-tugasnya, dan mempunyai motivasi kerja yang tinggi. Dampaknya, motivasi belajar siswa tinggi, karena dalam proses pembelajaran sarat akan variasi, inovasi dan improvisasi.

Sikap Kerendah hatian

Guru profesional harus memiliki sifat dan sikap rendah hati, karena guru bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan anak. Guru yang bersikap rendah hati (tawadhu’), adalah guru yang tidak sombong dan tidak membangga-banggakan dirinya, serta mengakui dan menghargai eksistensi orang lain, termasuk terhadap peserta didiknya. Sikap guru yang demikian sangat berpengaruh terhadap peserta didik yang ingin mengaktualisasikan diri untuk menemukan jati dirinya. Sebab segala pengaruh, terutama dari guru yang menjadi tokoh acuannya, bisa diterima dan diolahnya secara pribadi sesuai dengan individualitasnya masing-masing, yang kemudian  menjadi bagian dari dirinya sendiri. ***

Kembali ke   BERANDA /ARTIKEL

46 thoughts on “Sikap Guru Profesional

  1. Ping-balik: Sikap Guru Profesional | MEDIA ASMUNI SYUKIR

  2. Sikap sabar dapat dimiliki apabila guru telah memiliki stabilitas emosi (emotional stability) sebagai ciri kepribadian orang dewasa. dari uraian di atas apabila ada guru mendidik dengan cara kekerasan dan tidak sesuai dengan uraian bagaimana cara menyikapinya jika ada sikap kekerasan dalam proses belajar mengajar?

    • Klau menurut saya guru yang terbiasa menggunakan cara kekerasan bisa mencoba mengontrol emosinya, dimana seorang guru harus menghargai setiap individu muridnya yang berbeda-beda dan tidak mungkin bisa disama ratakan. Dengan belajar mengontrol emosinya seorang guru juga harus aktif mengikuti seminar-seminar atau workshop tentang pendidikan tanpa ada unsur kekerasan dalam mendidik peserta didiknya.🙂
      Fajar Mia/102271/ekonomi2011B

  3. saya setuju dengan pendapat tersebut, karena itu merupakan tuntutan sebagai guru prerfisional.
    dengan seorang guru memiliki sifat tersebut maka akan memudahkan proses mengajar .
    contoh jika kita mempunyai kreativitas yang bagus kita bisa membuat suasana belajar menjadi lebih menarik contohnya kta bsa melakukan proses pngajaran di luar kelas atau bisa jga dg diselingi permainan pada saat belajar.

  4. seorang guru yang profesional memang harus memiliki sikap-sikap itu semua. seorang guru harus terus mengembangkan dirinya, agar bisa menjadi guru yang profesional. Sikap profesional tersebut tidak hanya didapatkan melalui pelatihan saja, Tetapi juga dari hasil pengembangan pribadi guru tersebut.

    Dwi Ratnasari (1251249)

  5. saya sependapat dengan artikel diatas yang memuat beberapa sifat yang harus dimiliki oleh guru profesional. sikap-sikap diatas sangatlah diperlukan bagi seorang guru dalam menjalankan tugas, baik tugas keguruan maupun tugas non keguruan serta baik diterapkan dalam lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah karena guru harus dapat dijadikan contoh bagi murid-muridnya.

  6. Saya stjuh dengan gru profesionalisme mempunyai skap disiplin,,sdangkn dsini dsiplin i2 biasax diartikan taat atau ptuh pada aturan tw peratran..jika seorang guru tidak disiplin wk2 biasax peserta di2kx jg akn seperti itu,krna murid biasax meniru tingkah gurux,ex:seorang gru djadwalkan masuk keklas c jm 7 tp grux dtang jm 8 tnpa membri tw mengbari kalau trlambt atau yg laenx,biasax murid i2 akan mengangap rmeh gurux,,low akn dtang trlambt agy dan akhrx murid pun ikt brangkt trlambt,biar g nunggu lma biasax,
    hal seperti i2 adlh hal sepele yg harus dperhatikan,dsiplin i2 perlu..skap negatif sdktpun dri guru,biasax akn dcntoh muridx..
    Guru(di gugu n di tiru)sharusx cmw gru i2 profesionalisme.krna skap yg dlakukn seorng guru yg postf maupn negatif pzti dtru muridx krna gru i2 panutanx murid,,jd pha yg dilakukan grux pzti dcntoh muridx

  7. Mencari guru yang ideal memang sulit ditemukan, namun kita bisa menerka
    profilnya. Guru idaman merupakan produk dari keseimbangan antara aspek
    keguruan dan disiplin ilmu. Kedua ilmu ini tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi
    bagaimana dua aspek ini dijadikan amunisi bagi penempatan guru yang profesional
    secara utuh dan berkualitas yang penuh tanggung jawab dalam kontek personal, sosial,
    dan profesional. Sebab profesionalisme keguruan bukan hanya memproduksi siswa
    menjadi pintar dan skill, tetapi bagaimana mengembangkan potensi -potensi yang
    dimiliki siswa menjadi aktual di sinilah kepribadian guru diidamkan.

  8. Mencari guru yang ideal memang sulit ditemukan, namun kita bisa menerka
    profilnya. Guru idaman merupakan produk dari keseimbangan antara aspek
    keguruan dan disiplin ilmu. Kedua ilmu ini tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi
    bagaimana dua aspek ini dijadikan amunisi bagi penempatan guru yang profesional
    secara utuh dan berkualitas yang penuh tanggung jawab dalam kontek personal, sosial,
    dan profesional. Sebab profesionalisme keguruan bukan hanya memproduksi siswa
    menjadi pintar dan skill, tetapi bagaimana mengembangkan potensi -potensi yang
    dimiliki siswa menjadi aktual di sinilah kepribadian guru diidamkan.

  9. Saya sependapat dengan artikel diatas yang memaparkan tentang beberapa ciri guru profesional. Karena untuk menjadi guru profesional harus melalui tahap-tahap. Guru harus mampu bersikap dan bisa memberi contoh yang baik untuk anak didiknya. Sehingga akan mencetak generasi penerus yang berkarakter. Yang pertama kali diterapkan oleh guru adalah tentang kedisiplinan, karena kalau gurunya tidak disiplin lalu bagaimanakah sikap anak didiknya?? Oleh karena itu penyikapan kedisiplinan harus dimulai sejak dini. Ketika gurunya disiplin maka anak didiknya pun akan disiplin.

    Afifatur Rohmah (1251348)
    Pendidikan Matematika 2012 D

  10. saya setuju dengan apa yang di ungkapkan pada artikel diatas.
    seorang guru profesional memang dituntut untuk memiliki kriteria kriteria seperti yang disebutkan dalam artikel di atas,dimana seorang guru yang profesional itu tidak hanya mendidik,mengajar,dan membimbing tapi juga bisa menjadi teladan bagi anak didiknya serta memiliki beberapa kriteria lainnya.

    Riska Kurniasari Syakina (1251317)
    pendidikan matematika 2012 D

  11. saya sependapat dengan yang tertulis di artikel tersebut.
    terutama dalam hal penyikapan guru dalam menjalani tugasnya. hal yang sangat penting dan yang harus ditingkatkan adalah kesabaran. karena tugas guru adalah menghadapi beragam individu yang memiliki berbagai karakter dan watak yang berbeda. sehingga diperlukan kesabaran yang ekstra untuk memahami semuanya dan untuk menyatukan itu semua agar tujuan pendidikan tercapai.

    khoirun nisa / 1251134

    • menurut saya, sangat setuju dengan pendapat dari bapak, karena seorang guru itu dituntut untuk bersikap profesional dalam hal apapun . terutama kedisiplinan itu sangat penting peranannya bagi seorang guru, selain itu kesabaran juga perlu ditingkatkan bgi guru , karena setiap murid mempunyi karakter yang berbeda dalam belajar, ada yang mudah diatur bahkan da yang sulitnya minta ampun untuk diatur.
      sehingga hal tersebut sangat perlu dilakukan oleh seorang guru yang profesional.

  12. saya sangat setuju dengan artikel bapak, karna dalam sbuah lembaga pendidikan itu harus memiliki pendidik yg mmpunyai sikap profesional dalam hal apapun, jika seorang pendidik tidak mempunyai sikap profesional, maka itu akan berdampak kpada lembaga tersbut dan para peserta didiknya. Dalam hal ini sering kita jumpai yaitu sikap kesabaran para pendidik. Di banyak media-media akhir ini sering di beritakan tentang kekerasan pendidik kepada para peserta didiknya yaitu memukul, sampai menyobek buku peserta didiknya. Alasanya cuma sepele cuma pesrta didiknya tidak mengerjakan pekerjaan rumah, dan pendidik beralasan dia melakukan itu hanya untuk kedisiplinan peserta didik. Dari cntoh tersebut dapat di simpulkan yaitu “seorang pendidik harus memiliki sikap profesional salah satunya sikap kesabaran dalam melaksanakn tugasnya, agar tidak terjadi emosi pendidik dan para peserta didik dapat nyaman,menerima dan mengerti apa yg di sampaikan pendidiknya”.

  13. kreatifitas harus di miliki bagi setiap guru profesional karena akan mempengaruhi pemahaman peserta didik dalam kegiatan belajar, hal ini sudah di rasakan oleh semua peserta didik, contohnya tidak mengalami suatu kejenuhan dalam proses kegiatan belajar mengajar karena sifat kretifiitas adalah mampu memberikan jawaban yang tak terduga dan tak terpikirkan oleh orang lain, jadi setiap guru profesionalharus memiliki kreatifitas dalam pengajaran

  14. assalamu’alaikum
    sebelumnya saya minta maaf karena baru bisa mengomentari blog bapak
    saya sangat setuju dan sependapat pula dengan artikel bapak mengenai sikap guru yang profesional diatas karena dengan sikap kehati-hatian, kesabaran, kedisiplinan, kreativitas, dan rendah hati guru dapat membentuk karakter peserta didik secara tidak langsung yang bersifat positif terhadap kepribadian dan perilaku peserta didik
    dan sebaliknya jika sikap-sikap tersebut kurang diterapkan dan bahkan jika tidak diterapkan maka akan mempengaruhi pola pikir peserta didik dalam menyikapi suatu persoalan dan akan berpeluang untuk berdampak negatif
    maaf pak saya mau tanya,,
    sering kali kita jumpai atau alami sejak kecil dalam pendidikan itu terkesan guru menganggap murid tidak tahu apa dan tugas guru untuk mingisi ketidak tahuan peserta didik dengan keahlian guru dengan caranya sendiri tan pa berfikir lebih mendalam apakah yang diterapkan daat benar-benar bisa diterima oleh peserta didik, nah itu yang berkesan tidak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk menangkap materi yang diberikan oleh pendidik (guru) sehingga membuat peserta didik merasa tertekan dan tidak bisa nyaman atau puas dalam menerima pembelajaran dari guru.
    menurut bapak bagaimana menyikapi hal tersebut
    terima kasih
    wassalamu’alaikum .. .

  15. menurut saya menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang muLia dan tidak mudah.
    dikarenakan guru harus memiliki sifat-sifat yang mulia seperti halnya:
    1. sifat kehati-hatian
    2. sifat sabar
    3. sifat disiplin
    4. sifat rendah hati
    5. kreativitas

  16. seorang guru profesional sekarang sudah banyak dengan dibuktikan sertifikat yang telah di dapatnya…. akan tetapi mencari sosok guru yang profesional seperti yang disebutkan di atas
    1. sifat kehati-hatian
    2. sifat sabar
    3. sifat disiplin
    4. sifat rendah hati
    5. kreativitas
    akan tetapi satu hal yang jarang dimiliki oleh seseorang guru profesional. yaitu IKHLAS. suatu hal dimana kita berjuang mentransfer ilmu dan membimbing anak didik ke arah yang sesuai dengan norma-norma masyarakat dan menjadikan seseorang yang cerdas baik dibidang iptek maupun imtaq. karena rasa ikhlas akan mengalahkan segala bentuk kesulitan yang dihadapi oleh seorang guru profesional. dengan rasa ikhlas tersebut, seorang guru yang profesional akan menjalankan tugasnya dengan senang hati.
    NAMA : Muhammad Rizal Masluhi
    Prodi : Pendidikan Matematika
    Kelas : 2012 D
    NIM : 1251200

  17. semua sudah tertulis dan terungkap, “indah kabar tak seindah kenyataan” seperti betapa indahnya sebutan guru dan betapa berat jawaban dari tanggungan yang diembannya..
    baha’ul abror (125119)
    mohon maaf yang sebesar-besarnya.memang ini yang saya punya saat ini.

  18. memang benar guru yang profesional haruslah mempunyai sikap kehati-hatian, kesabaran kedisiplinan, rendah hati dan mempunyai kreativitas..
    tapi menurut saya menjadi seorang guru yang sabar itu sangat sulit karena kadang dalam mengajar mungkin ada anak yang bandel atau ada yang membuat emosi kita terpangcing..
    dan itu sangat bisa berpengaruh kalau kita tidak bisa mengontrol emosi kita.
    karena guru yang emosinya stabil tidak akan mudah marah dan tidak akan tergesa-gesa (ceroboh) dalam segala tindakannya. Banyak kejadian di sekolah yang mudah menyulut kemarahan guru. Tetapi, guru yang telah memiliki stabilitas emosi, ia akan tetap sabar dan arif dalam menghadapi kejadian-kejadian yang menjengkelkan tersebut.

  19. Assalamu’alaikum
    sikap dan perilaku guru yang profesional adalah mampu menjadi teladan bagi para peserta didik, mampu mengembangkan kompetensi dalam dirinya, dan mampu mengembangkan potensi para peserta didik. Sikap dan perilaku guru yang profesional mencakup enam belas pilar dalam pembangun karakter. Keenam belas pilar tersebut, yakni kasih sayang, penghargaan, pemberian ruang untuk mengembangkan diri, kepercayaan, kerjasama, saling berbagi, saling memotivasi, saling mendengarkan, saling berinteraksi secara positif, saling menanamkan nilai-nilai moral, saling mengingatkan dengan ketulusan hati, saling menularkan antusiasme, saling menggali potensi diri, saling mengajari dengan kerendahan hati, saling menginsiprasi, saling menghormati perbedaan.

    Sikap dan perilaku guru dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhinya berupa faktor eksternal dan internal. Oleh karena itu pendidik harus mampu mengatasi apabila kedua faktor tersebut menimbulkan hal-hal yang negatif.

    mungkin hany itu pendapat saya. sekian
    Wassalam……

    Nama : Muhammad Rizal Masluhi
    NIM : 1251200
    Prodi : Pendidikan Matematika
    Kelas : 2012’D

  20. assalamualaikum wr.wb
    maaf pak sebelumnya, sepertinya semua hal tentang profesionalisme guru sudah di jelaskan oleh teman – teman dan rata – rata penjelasan mereka sudah mewakili jawaban tersebut.
    disini saya hanya mau menambahkan sedikit:
    guru profesional kalau menurut saya adalah guru yang tidak hanya mampu mendidik muridnya dalam hal intelektualnya saja, tetapi harus mampu mendidik muridnya dari aspek intelektual, akhlak, kepribadian, keterampilan, dan juga guru profesional harus bisa bersikap profesional yakni mampu memisahkan kepentingan pribadi dengan kepentingan tugasnya. serta guru profesional harus memiliki jiwa totalititas terhadap tugas dan perannya.
    mungkin itu pendapat dari saya, kurang lebihnya mohon maaf.
    wassalamuailaikum wr.wb

    Zaenal Muttaqin
    1251196
    2012-D

  21. assalamualaikum wr.wb
    maaf pak sebelumnya, sepertinya semua hal tentang profesionalisme guru sudah di jelaskan oleh teman – teman dan rata – rata penjelasan mereka sudah mewakili jawaban tersebut.
    disini saya hanya mau menambahkan sedikit:
    guru profesional kalau menurut saya adalah guru yang tidak hanya mampu mendidik muridnya dalam hal intelektualnya saja, tetapi harus mampu mendidik muridnya dari aspek intelektual, akhlak, kepribadian, keterampilan, dan juga guru profesional harus bisa bersikap profesional yakni mampu memisahkan kepentingan pribadi dengan kepentingan tugasnya. serta guru profesional harus memiliki jiwa totalititas terhadap tugas dan perannya.
    mungkin itu pendapat dari saya, kurang lebihnya mohon maaf.
    wassalamuailaikum wr.wb

  22. Assalamu’alaikum wr.wb
    Ya memang benar?Tapi kalau menurut saya ,Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran kompetensi. Disini meliputi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan profesional, baik yang bersifat pribadi,sosial, maupun akademis. Dengan kata lain pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan atau keahlian dalam bidang keguruan, sehingga ia mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
    Guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian dalam materi maupu metode. Selain itu juga ditunjukkan melalui tanggung jawab dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya.

  23. Assalamu’alaikum…..
    Pak saya mau bertanya ? Apakah seorang yang mau menjadi guru harus profesional? dan haruskah ke profesional itu harus di tempuh melalui lulusan sarjana pendidikan?,… dan apabila sebelum lulus sudah menjadi guru, apakah itu sudah disebut menjadi guru profesional ?

  24. memang, guru bisa disebut sebagai guru profesional, dia mampu menjalankan tugasnya, mengajar, mendidik siswamya, melatih, dll, disamping itu, sabar, sifat kehati2an, sangat diperlukan…. akan tetapi saya mempunyai pertanyaan… bolehkah kita sebagai guru memperlakukan siswa atau murid kita seperti teman?, maksudnya… diluar lingkungan sekolah perlakuan atau komunikasi kita terhadap murid sama seperti kita berbicara kepada teman… ada yang mengatakan supaya kita bisa memahami bagaimana karakter siswa kita, kita bisa dekat dengan murid dengan maksud agar dia senang dengan mata pelajaran yang disampaikan dan mampu menangkap dan menerima…. dan apakah itu termasuk dari sikap profesional guru?

  25. Memang sebagai guru profesional haruslah memiliki sifat itu semua terutama mempunyai wawasan yang luas tentang dimensi kemanusiaan beserta implikasinya dalam tujuan pendidikan dan kesabaran dalam mengembangkan potensi anak didik atau harus mempunyai stabilitas emosi dimana sebagai guru profesional harus bisa menjadi contoh bagi siswanya. kedisiplinan pun juga sangat perlu diperhatikan oleh seorang guru profesional sebab kalau seorang guru tidak disiplin bagaimana dengan siswanya.

  26. saya setuju dengan artikel diatas karena sebagai guru yang profesional harus memiliki semua sifat tersebut terutama memiliki sifat sabar sebab karakter seorang peserta didik tidak semuanya sama maka dari itu kita sebagai seorang guru harus memiliki kesabaran yang ekstra dan mengerti watak peserta didiknya sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai.

  27. Saya sependapat dengan artikel diatas karena sebagai guru yang profesional harus memiliki semua sifat tersebut terutama memiliki sifat sabar sebab karakter seorang peserta didik tidak semuanya sama maka dari itu kita sebagai seorang guru harus memiliki kesabaran yang ekstra dan mengerti watak peserta didiknya sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai.

  28. Ass.wr.wb.

    saya sejutu dengan paparan anda yang menjelaskan tentang sikap sabar yang dimiliki guru
    tetapi kenapa kebanyakan dari peserta didik tentunya saya juga menilai guru mereka dari kesabarannya, karena jika seorang guru tersebut memiliki sikap sabar maka murid-muridnya akan menyukai guru tersebut tetapi jika sebaliknya maka murid-muridnya akan tentu tidak menyukainya bahkan mereka malah menakuti guru tersebut, itu justru malah membuat mereka tertekan dalam kegiatan belajar mengajar.

  29. Penyikapan Guru terhadap Tugas-tugasnya memang harus dilakukan dengan berhati-hati. Banyak kasus yang menyebabkan trauma psikis atau psikologi yang dialami oleh banyak anak didik di Indonesia. Apabila ada salah satu anak didik yang melakukan kesalahan guru sebaiknya tidak langsung menghukumnya akan tetapi memberikan sebuah peringatan saja. Apabila ia (anak didik) melakukan kesalahan yang sama dan berulang kali barulah kita memberikan sanksi. Sanksi ini sebaiknya bersifat mendidik dan tidak seolah-olah ‘menganiaya’ anak didik.

  30. Saya sangat setuju dengan artikel d atas karena menurut saya guru memang harus memiliki sikap tersebut. Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia.
    Saya pernah mengalami di SMA memiliki guru yang tidak mempunyai sikap ke hati-hatian dan kesabaran. Guru tersebut hanya memberikan tugas setiap masuk pembelajan tanpa memberikan materi,sering marah-marah,selalu mencubit siswanya apabila melakukan kesalahan kecil dan membeda-bedakan antara siswa yang pintar dan yang biasa saja. Apakah guru tersebut bisa disebut guru profesinal?

  31. saya sangat setuju dgn artikel tersebut.karena dngn sikap keprofesionalismean seorang guru dapat dijadikan acuan peserta didik dalam mengembangkan kompetensinya.akan tetapi dalam mengambil sikap profesionalisme tersebut seorang guru harus benar-benar memahami etika-etika yang ada, misalnya seorang guru seharusnya tidak melakukan tindakan kekerasan pada peserta didik.jika memang peserta didiknya ada yang melanggar peraturan maka yg seharusnya dilakukan oleh guru adalah memberikan pengarahan secara halus…agar para peserta didik tdk mengalami trauma psikis.

  32. kalau guru tsb kurang memenuhi satu dari kriteria di atas, apakah masih bisa di sebut dg guru yg profesional?

  33. Saya setuju dengan artikel tersebut seperti telah diungkapkan, bahwa dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu professional, maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap profesionalnya. Ini berarti bahwa kelima sasaran penyikap yang telah dibicarakan harus selalu dipupuk dan dikembangkan.
    Pengembangan sikap professional ini dapat dilakukan baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas (dalam jabatan).

  34. saya stuju dengan artikel diatas.karena menurut saya guru selain dituntut untuk menguasai pengetahuan dan wawasan yang harus dimiliki,namun juga diperlukan sikap profesionalitas guru sebagai pengajar,karena dengan sikap profesionalitas dapat menentukan kepribadian guru dan pengaruhnya terhadap proses pembelajaran

  35. saya setuju dengan artikel diatas karena menurut saya guru tidAK hanya dituntuk untuk menguasai wawasan dan pengetahuan yang dimiliki,namun juga harus memiliki sikap profesionalisme guna menunjang proses pembelajaran yang ada.dengan profesionalisme akan menentukan nasib guru dan juga murid

  36. Kalau membahas persoalan tentang bagaimana menjadi seorang guru yang ideal banyak berbagai pendapat yang menjelaskan kriteria-kriteria guru ideal tapi belum pernah saya mendengar ada tambahan tentang bagaimana bisa menjadi seorang guru yang ikhlas memberikan ilmunya kepada peserta didiknya. Banyak fenomena jasa seorang guru di ukur dari timbal baliknya(gaji), memang benar seorang guru juga butuh uang atau kesejahteraan. disini saya ingin bertanya bagaimana sih menjadi guru yang benar-benar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa? mungkin dari Pak Asmuni dan temen-temen bisa memberi penjelasan. terima kasih🙂

  37. assalmkum
    pak saya mau tanya. sekarang banyak pendidik yang mengajar akan tetapi ia kebanyakan belum dapat menjadi pendidik yang profesional, akan tetapi ia dituntun untuk bersikap profesional pada sekolahan atau lembaga. padahal sudah diterapkannya peraturan-peraturan untuk menunjang keprofesionalan mereka, akan tetapi beberapa tetap. dan rasa ketolerensian di lembaga atau sekolah tersebut tinggi hingga tidak dapat untuk menjadi ancaman bagi pendidik yang tidak patuh. bagaimana pak cara mengatasi hal tersebut ?

  38. Menjadi Profesional dalam setiap profesi memang tidak mudah, tetapi kita dapat belajar dari pengalaman maupun dari rekan seprofesi kita dalam melakukannya. untuk itu seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang Undang Dosen dan Guru, yakni:
    1.kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik,
    2. kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,
    3. kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,
    4. kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

  39. Seseorang guru harus memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang profesional.Profesionalisme: Lebih mengarah pada (spirit, jiwa, sikap, karakter, semangat, nilai).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s